Berbisnis dengan Ilmu

Saat ini, di Indonesia, sedang menggejala virus enterpreneur. hal yang sangat bagus, dengannya insyaAllah akan semakin maju perekonomian suatu bangsa. Bangsa ini tidak bisa selamanya bertumpu pada SDA-nya, akan tetapi harus dipompa oleh SDM-SDM yang unggul di semua lini, baik dari sains, engineering, pendidikan, kesehatan, dan tentu finansial yang digerakkan oleh para pebisnis. Ambil contoh Singapura yang tidak memliki SDA akan tetapi maju karena para pebisnisnya mampu memposisikan Singapura sebagai pusat perdagangan di areanya. Dengan majunya perdagangan, akan maju pula infrastruktur yang berimbas pada pemerataan kesehatan, pengetahuan, dll.

Tapi, saat ini, banyak para trainer yang hanya memompa semangat para pebisnis muda, seolah-olah berbisnis itu semudah meloncat-loncat dan berteriak di training beliau-beliau. Sungguh sayang bahwa ilmu level eksekusi hanya disimpan kalaulah tidak untuk diri sendiri, ilmu tersebut akan dijual pada level coaching dengan tarif puluhan hingga ratusan juta. Tidak semua orang mampu. Saya tetap belajar dari beliau-beliau sesuai ilmu yang saya butuhkan dari beliau, dan tidak semua trainer hanya menyemangati tanpa membimbing,

Ketidaktahuan karena tidak diberitahu oleh trainer dan keengganan belajar ilmu teknis bisnis karena menganggap bisnis itu semudah meloncat, menyebabkan banyak pebisnis pemula berguguran dan akhirnya bangkrut. Buruk? Tidak juga jika mereka memiliki mental yang kuat, kalau kata Pak Dahlan Iskan, habiskan jatah gagal saat muda. Tapi akan lebih mudah bagi bangsa ini maju jika para pebisnis muda telah memiliki bekal ilmu berbisnis ketika memulai usahanya. Dengan bekal ilmu tersebut, insyaAllah bisa mempercepat proses mencapai kesuksesan dari sang pebisnis pemula tersebut. Akhirnya, karena memulai semuanya tanpa bekal ilmu yang cukup, ilmu-ilmu eksekusi yang perlu dikuasai oleh para pebisnis, harus dipelajari dengan cara yang keras, entah itu dengan kerugian, kegagalan, dll.

Saya pun saat ini masih harus banyak belajar dan banyak berguru kepada sebanyak mungkin orang, dari beliau-beliau lah saya paham pentingnya ilmu-ilmu tersebut ketika kita ingin berkembang. Seringkali ada pepatah, investasi termahal adalah leher ke atas, dan pepatah itu terasa sangat tepat bagi seorang profesional dalam bidang apapun. Kegagalan seorang dokter dalam mengobati akan menyebabkan pasien gagal sembuh, kegagalan guru menjelaskan materi akan menyebabkan murid gagal paham, dan kegagalan pebisnis dalam mengelola bisnisnya akan menyebabkan bisnisnya gugur yang akhirnya berimbas pada timbulnya pengangguran.

Saat ini banyak cara dan fasilitas yang sangat memudahkan para pebisnis untuk belajar apapun yang mereka butuhkan, yang paling efektif (persepsi pribadi) adalah dengan bergabung dengan komunitas yang saat ini banyak bermunculan seperti TDA, KPMI, Bisnis Muslim, YuBI, YOT, dll. Kelebihannya? kita akan belajar dari orang yang tidak menjual ilmu, tapi berbagi. Nothing to lose then.

Dari komunitas-komunitas tersebutlah saya bisa paham bahwa seorang pebisnis harus menguasai 4 pilar bisnis :
1. Marketing
2. Akunting
3. Operasi
4. SDM

Dan sebuah bisnis yang diajalankan pebisnins harus mampu memuaskan 4 pihak :
1. Konsumen
2. Investor
3. Pegawai
4. Lingkungan

Dengan besarnya tanggung jawab yang diampu oleh seorang pebisnis, layaklah bahwa kita harus belajar sekeras ilmuwan & bekerja sekeras kuli.

Saya memiliki saudari, yang jika semuanya lancar, dia akan memiliki gelar PhD dalam bidang teknik kimia pada usia 26 (Wow!). Ada juga seorang kenalan wanita calon guru yang memiliki sorot mata penuh semangat tapi agak judes yang dengan gigihnya mencari beasiswa S2. Anda bisa bayangkan kerja keras yang harus dilakukan untuk mencapai PhD pada usia 26 dan mencari beasiswa full untuk S2 untuk mahasiswa yang bukan pegawai suatu instansi? Sang kimiawati akan mengampu tim peneliti, dan sang guru akan mengampu kelas. Sedangkan pebisnis, akan mengampu sekian banyak tim yang didalamnya terdiri dari banyak divisi yang mungkin melibatkan ilmuwan pada divisi RnD, atau divisi pengembangan SDM yang melibatkan guru-guru. Jika anggota tim yang akan Anda pimpin saja belajar & bekerja sekeras itu, sudah selayaknya Anda sebagai pebisnis dan pemimpin tim bekerja dan belajar lebih keras dari mereka. Jika para anggota tim Anda saja bisa, Anda pasti juga bisa.

Selamat belajar kawans.

Fajri the @nganggurpreneur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *