Mengunjungi Masternya Manajemen Operasi

Beberapa saat lalu, saya dikenalkan buku The Toyota Way oleh salah satu mentor bisnis saya pakwandi, telat ya, better be late than never they say.Sesudah mengkhatamkan buku itu, saya pun keranjingan manajemen operasi. Di kepala cuma ada 1 kata “efisiensi” (ini bukan iklan bus ya).
Setelah itu, isi buku yg rasa-rasanya seperti buku ajaib itu pun coba saya terapkan di banyak lini lapak, efeknya alhamdulillah banyak penyederhanaan tugas dan pengurangan waktu. Senang betul rasanya waktu itu (ngampring ya).
Sampai kemaren, saya janjian sama seorang kolega di starbuck, maklum orang udik, ini pertama kali nyeruput kopi setarbak, biasanya ngopi di angkringan ditemenin gorengan. Setarbak ini sering dibahas di buku manajemen operasi dari S1-S3 sebagai sampel penerapan manajemen operasi yg luar biasa sukses (ini juga katanya wong saya cuma lulusan SMA).
Saat itu setarbak rame banget, sampai ada orang yg akhirnya ga kebagian meja. Masuk ke warkop setarbak, awalnya heran, cuma ada 1 kasir dan 1 barista dalam kondisi sekian banyak meja. Setelah pesan, ternyata kita nunggu pesanan kita dibikinin sama barista, dengan kekaguman khas orang udik, saya tertegun melihat betapa 2 orang ini bekerja sangat efisien dan sanggup memenuhi seluruh order yg banyak tanpa chaos.
Semua alat ditata seefisien mungkin, sekali angkat / tekan cukup, ga perlu lagi ditakar-takar. Efisien luar biasa.
Perpaduan suasana cozy, minuman enak, cepat, dan sajian atraksi penerapan manajemen operasi yg brilian benar-benar membuat saya terpana.
Di penghujung hari, ketika sudah di rumah, saya bilang ke istri betapa dibandingkan setarbak, rasa-rasanya ilmu saya kayak anak SD dibandingin sama propesor.

2 thoughts on “Mengunjungi Masternya Manajemen Operasi

  1. selain masalah diatas , masalah lain yang muncul adalah berkitan dengan susunan kepegaiwaian. Bagi perusahaan mulinasioanal mereka menghadapi masalah dalam mencari manajer-manajer yang baik untuk operasi mereka di luar negeri. Orang yang dicari adalah orang yang bicultural dengan pengetahuan praktek bisnis di negara asal ditambah degan pemahaman praktek bisnis dan adat istiadat negara tuan rumah.

    1. Yup, memang saat ini perusahaan perusahaan dituntut untuk mengembangkan budaya seperti itu. Tantangan buat enterpreneur kita ke depan. Go internasional, membawa kultur Indo, mengaplikasikan dengan kultur tuan rumah. Hal ini memang mempermudah penetrasi pasar karena lebih nyaman untuk konsumen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *